Tinkerbell Glitter
Rabu, 18 Desember 2013

ANALISIS PENGARUH PEMBATASAN SUBSIDI BBM TERHADAP M1 DAN M2 SERTA INCOME PERKAPITA





Tugas Kelompok Teori Ekonomi 1








Oleh :
Dyah Ayu Kusuma Wardani (22212330)
Kahlil Fauzan (24212013)
Mega Ayu Puspita (24212507)
Mufingatun (24212750)


Kelas : SMAK06


Universitas Gunadarma
Jl. TB simatupang Kav. 38 Jakarta selatan,  Jakarta – Indonesia, Telp  (021) 7801923 


ANALISIS PENGARUH PEMBATASAN SUBSIDI BBM TERHADAP M1 DAN M2 SERTA INCOME PERKAPITA



Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Dimana Indonesia pernah dikenal sebagai negara penghasil minyak, namun pada kenyataannya sekarang kita bukan lagi negara pengekspor minyak. Tahun 2003, untuk pertama kalinya Indonesia defisit minyak, tingkat konsumsi melampau tingkat produksi. Tahun 2004, kekurangan ini tidak dapat ditutupi lagi dari cadangan nasional, sehingga untuk pertama kalinya pula Indonesia harus menutup kekurangan 176 kbpd dengan mengimpor minya dari luar negeri. Pada tahun 2010, tercatat produksi minyak Indonesia hanya 986 kbpd padahal tingkat konsumsi melonjak hingga menembus angka 1,304 kbpd atau defisit 318 kbpd. Pada Februari 2012, harga minyak masih terus mengalami lonjakan seiring dengan penghentian pengiriman minyak dari Iran ke Inggris dan Prancis, juga rencana penghentian pengiriman minyak ke negara Uni Eropa lainnya seperti Spanyol, Belanda, Yunani, Jerman, Italia dan Portugal. Akibatnya harga minyak dunia jenis Brent dan WTI terus mengalami peningkatan. Pada 24 Februari 2012 harga minyak jenis Brent dan WTI masing-masing sebesar US$ 126 per barel dan US$ 109 per barel.
 Di samping naiknya harga minyak dunia, pemerintah melakukan pembatasan subsidi BBM guna meminimalkan APBN. Selain itu, demi mewujudkan peningkatan daya beli masyarakat dan kemandirian perlu adanya upaya untuk terus merangsang masyarakat demi tidak berpangkunya pada subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, menerima kebijakan pemerintah untuk melakukan pengurangan subsidi BBM diharapkan dapat menjadi jawaban atas berbagai persoalan ini. Pemerintah harus berani bersikap bahwa, beban anggaran akan semakin berat kalau tidak dinaikkan.
Pembatasan subsidi BBM akan meningkatkan laju inflansi. Memandang kenaikan harga BBM justru berdampak pada peningkatan harga-harga sehingga mendorong laju inflasi pada level yang cukup tinggi yang dapat memicu gejolak sosial di masyarakat serta meningkatkan jumlah masyarakat miskin akibat daya beli masyarakat makin merosot. Kenaikan harga BBM yang disertai dengan peningkatan harga barang berimplikasi pada menurunnya daya beli masyarakat.
Meningkatnya laju inflansi akan sangat memengaruhi tigkat suku bunga. Hal ini karena masyarakat akan meminta tingkat suku bunga yang lebih tinggi untuk menutupi penurunan daya beli unag di masa yang akan datang. Bank Indonesia (BI) juga menggunakan suku bunga yakni bi rate untuk mengatur supply uang di sistem keuangan Indonesia. Untuk mengerem laju inflasi, bi menaikan bi rate sehingga masyarakat lebih memilih untuk menyimpan uangnya daripada membelanjakannya. Hasilnya, demand terhadap barang menurun sehingga kenaikan harga barang (inflasi) dapat tertahan.
Harga BBM secara historis merupakan faktor yang dapat memacu laju inflasi ke level yang tinggi. Ekonom menilai setiap kenaikan BBM bersubsidi sebesar 20% maka akan meningkatkan laju inflasi tahunan sekitar 0,4%. Pemerintah yang sedang mempertimbangkan meningkatkan harga BBM bersubsidi tentunya akan berdampak pada percepatan inflasi. Inflasi yang berakselerasi akan memaksa BI untuk meningkatkan level suku bunga acuannya, bi rate. Sebagai acuan suku bunga, peningkatan bi rate akan diikuti oleh peningkatan suku bunga pinjaman dan kemudian suku bunga simpanan di perbankan.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan temenyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Dengan adanya pembatasan subsidi BBM maka akan meningkatkan laju inflansi yang berdampak pada peningkatan harga-harga, dan menyebabkan orang enggan untuk menabung. Dari pembahasan tersebut maka income perkapita akan menurun karena menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai pertambahan output (pendapatan nasional) yang berasal dari pertambahan tingkat penduduk dan tabungan masyarakat. Salah satu faktor menurunkan pendapatan nasional adalah dari income perkapita yang rendah. Income perkapita rendah dikarenakan dengan jumlah yang sama atau gaji yang sama disaat sebelum atau sesudah laju inflansi akan mendapatkan barang dengan jumlah yang berbeda. Terlihat lebih sedikit saat laju inflansi meningkat.


Sumber :


http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCoQFjAA&url=http%3A%2F%2Fberkas.dpr.go.id%2Fpengkajian%2Ffiles%2Finfo_singkat%2FInfo%2520Singkat-IV-5-I-P3DI-Maret-2012-44.pdf&ei=b56xUuqEF6TjsASF-ICABg&usg=AFQjCNEmnL4WlKvr8HJBADgZQHySbGBlEg&bvm=bv.58187178,d.cWc


0 komentar:

Posting Komentar

 
;