Oleh :
Dyah Ayu Kusuma Wardani (22212330)
Kahlil Fauzan (24212013)
Mega
Ayu Puspita (24212507)
Mufingatun
(24212750)
UNIVERSITAS
GUNADARMA
TAHUN
PELAJARAN 2013/2014
Komoditi Tekstil dan
Produk Tekstil Terhadap Comparative
Advantage
Industri Tekstil dan Produk Tekstil
Menurut Kemendagri (2011) sebuah produk tekstil merupakan produk
mentah, produk setengah olah atau yang telah diolah, produk semi manufaktur
atau manufaktur, produk setengah jadi atau produk jadi yang berasal dari serat
tekstil dari campuran atau proses perakitan yang digunakan.
Tekstil teknik dikenal juga dengan nama tekstil industri,
merupakan sub-kategori dalam sektor produk tekstil serta sektor produk pakaian.
Tekstil teknik mencakup serangkaian produk dari berbagai sub-sektor dan
didefinisikan sebagai jenis tekstil bertujuan bukan untuk estika atau
dekoratif, melainkan untuk mendukung produk-produk dari industri lainnya.
Produk tekstil teknis cukup bervariasi, mulai dari plester medis hingga
alat-alat mobil yang terbuat dari serat karbon, termasuk kerangka atap yang
dilapisi plastik.
Keragaman sektor tekstil menyebabkan berkembangnya berbagai
jenis perusahaan serta terciptanya beragam struktur pasar yang didominasi oleh
Usaha Kecil dan Menengah (Small and Medium Enterprises/SMEs). Metode
produksi yang digunakan juga berbeda-beda, namun proses manufaktur tekstil pada
umumnya membutuhkan investasi modal besar yang harus dikeluarkan di awal.
Diagram di bawah ini menunjukkan nilai impor dan
ekspor Indonesia, masing-masing sektor tekstil dan pakaian, serta neraca
perdagangan agregat untuk tekstil dan pakaian dari tahun 2007 hingga 2011
(dalam juta US$):
Sumber: Data Akses Pasar dan Perdagangan Internasional WTO
Ekspor tekstil dan Pasar Ekspor Utama Indonesia
Seperti yang telah ditunjukkan pada tabel pertama di atas,
Indonesia mengekspor beragam jenis produk tekstil dalam lebih dari 15 sub-sektor
pada kode HS 6-angka, dengan rata-rata ekspor tahunan sebesar US$ 30-90.
Sebagian besar merupakan ekspor pakaian dan garmen, bukan benang atau tekstil
yang belum diproses, walaupun Indonesia juga menghasilkan berbagai jenis serat
dan benang filamen dalam jumlah yang signifikan. Pemasok dari Indonesia
berkontribusi sebesar 2% dari total impor tekstil Uni Eropa, dan merupakan salah
satu eksportir tekstil dan pakaian jadi terkemuka di kawasan ASEAN.
Berdasarkan statistik yang dimuat dalam South East Asia
Textile Business Review 2009 (Edisi pertama), Indonesia meguasai 1,6% pasar
ekspor tekstil serta 1,7% pasar ekspor garmen dunia. Secara global, Indonesia
memproduksi 13% serat viscose staple (Viscose staple fiber/VSF), 4%
serat polyester staple (polyester staple fibre/PSF), 4% benang polyester
filament (polyester filament yarn), 2% poliamida, serta 0,03% kapas. Pasar
ekspor tekstil dan garmen terbesar Indonesia terdiri dariAmerika Serikat
(mencapai 36% ekspor tekstil dan garmen Indonesia pada tahun 2009), diikuti
oleh Uni Eropa (16%) dan Jepang (5%). Industri tersebut mengalami pertumbuhan
yang stabil selama beberapa tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan ekspor
tekstil dan produk tekstil sebesar 11,59% atau sebesar 3,41% per tahun, dari
tahun 2000 hingga 2009.
Rantai
Nilai
Pada permulaan rantai nilai, bahan baku mentah diolah dari
serat mentah menjadi benang yarn dan benang thread. Hal ini
dilakukan dengan cara memintal serat untuk menghasilkan tabung silinder (cylindrical
bobbins) berisi serat yang telah dipintal yang kemudian disambungkan
menjadi helaian panjang benang thread atau benang yarn. Setiap
helai benang kemudian ditenun bersamaan pada mesin tenun (yang kini telah
terkomputerisasi) untuk menghasilkan kain. Mesin tenun menjaga ikatan tetap di
tempat, yang diikat dengan kuat pada bingkai dan bagian weft-nya, yang
tersambung kepada tangkai besi sebanyak satu helai benang per tangkai. Setelah
kain selesai ditenun, kemudian digunakan bahan kimia untuk memurnikan warna
dasar dan menghilangkan minyak, lilin serta elemen lain yang secara alami
terdapat di dalam kebanyakan serat. Setelah tekstil diproses dan produk tahap
menengah atau intermediate-state telah selesai, tekstil dapat diolah
menjadi pakaian, tekstil rumah serta tekstil industri. Tekstil atau kain
kemudian diselesaikan dengan diberikan lapisan coat, pemutih, dipotong
atau dicetak, dan seterusnya sebelum diubah menjadi produk akhir.
Menurut siaran pers Biro Umum dnan Humas Kementerian
Perindustrian di Jakarta pada 21 Juli 2010 industri tekstil dan produk
tekstil merupakan salah satu industri yang diutamakan untuk dikembangkan karena
memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional yaitu sebagai
penyumbang devisa negara, menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup besar, dan
sebagai industri yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan
sandang nasional. Hal ini dapat ditunjukkan melalui perolehan surplus
ekspor terhadap impor selama satu dasawarsa terakhir, bahkan saat krisis
ekonomi melanda dunia, ITPT Nasional masih dapat
mempertahankan surplus perdagangannya dengan nilai tidak kurang dari US$
5 Milyar, penyerapan tenaga kerja 1,34 juta jiwa, capaian Tenaga Kerja Dalam
Negeri hingga 63% dan berkontribusi memenuhi kebutuhan domestik sebesar 46%.
Ditinjau dari performa neraca ekspor-impor antara Indonesia
dengan beberapa negara produsen TPT Asia untuk produk serat, benang, kain
lembaran dan pakaian jadi pada kurun waktu tahun 2008 dan 2009, menunjukkan
bahwa ITPT Nasional masih cukup baik. Namun, performa ekspor-impor TPT Nasional
yang cukup baik itu belum dapat menjadi jaminan bahwa ke depan industri TPT
masih tetap dapat bersaing, mengingat kinerja ekspor selama lima tahun terakhir
cenderung melambat, akibat dari kompleksitas berbagai faktor yang dihadapi
industri TPT. Sementara industri TPT Nasional memiliki cukup banyak faktor yang
potensial berpengaruh melemahkan daya saing, baik faktor internal maupun faktor
eksternal, yang perlu segera diselesaikan dengan program kerja yang konkrit,
implementatif, terarah, dan sinergis.
Faktor internal yang dihadapi industri TPT, sebagai berikut :
·
Kondisi mesin yang sudah usang dan perlu
diremajakan.
·
Belum tersedianya industri permesinan tekstil di
dalam negeri yang mengakibatkan ketergantungan dengan mesin impor.
·
Bahan baku kapas yang masih 99,5% diimpor; bahan
penolong seperti zat warna azzo belum tersedia cukup di dalam negeri.
·
Terbatasnya SDM yang terampil dan professional.
·
Belum cukupnya dukungan perbankan dalam
pemberian kredit modal kerja
·
Penggunaan energi yang boros.
Faktor eksternalnya yang dihadapi industry TPT, sebagai
berikut:
·
Pasokan energi yang tidak terus-menerus.
·
Belum adanya prioritas akses pasar yang memadai
bagi produk tesktil dalam negeri di pasar modern.
·
Kurangnya fasilitasi marketing produk TPT di luar
negeri.
·
Belum memadainya fasilitas sarana dan prasarana
transportasi, pelabuhan, serta tidak adanya kepastian waktu penyelesaian
restitusi pajak, dan lain sebagainya.
Dengan kondisi tersebut, maka cost structure yang terbentuk menjadi banyak dibebani oleh
biaya-biaya yang tidak terkait langsung dengan proses produksi.
Bertolak dari kondisi itulah, maka Kementerian
Perindustrian mengambil langkah konkrit sebagai upaya peningkatan penguatan
daya saing ITPT dengan memaksimalisasikan nilai tambah produk ITPT
dalam negeri.
Kementerian Perindustrian sejak tahun 2007-2009 telah
melakukan Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan, yang bertujuan untuk
mendorong industri TPT melakukan peremajaan permesinannya, dan hasilnya
cukup menggembirakan. Dengan penyaluran dana program yang hanya sebesar
Rp.504,77 miliar, telah terjadi investasi swasta senilai Rp.4,90 triliun,
penyerapan tenaga kerja sebanyak 46.902 orang, peningkatan
produksi 15-28%, penghematan energi 6-18% dan peningkatan
produktivitas 7-17 %.
Pada tahun 2010,selama periode pendaftaran mengikuti program
yaitu 29 Maret-30 Juni 2010 telah terdaftar 202 industri TPT dengan
perkiraan nilai investasi senilai Rp.2,33 triliun dengan bantuan senilai
Rp.212,66 miliar atau 147%. Dengan kata lain pada Tahun Anggaran 2010
terjadi defisit anggaran sebesar Rp.68,31 miliar, sehingga 91 industri TPT
peserta Program terkategori waiting list.
Kementerian Perindustrian memandang program restrukrisasi mesin/peralatan
saja belum cukup untuk meningkatkan daya saing.
Selain itu Kementerian Perindustrian juga telah
mengambil inisiatif menyusun Rencana Aksi Revitalisasi ITPT, antara lain:
· Mengupayakan menarik /mengembangkan investasi
industri bahan baku serat sintetik;
· Mendorong upaya pengembangan kapas lokal;
· Mengupayakan menarik/mengembangkan investasi industri zat
warna tekstil;
· Mengupayakan menraik/mengembangkan investasi industri
aksesoris fashion;
· Pengembangan profesionalisme SDM ITPT;
· Pengembangan SDM serta Pusat Design dan Fashion;
· Menarik/mengembangkan investasi industri permesinan
tekstil.
Kementerian Perindustrian tentu tidak akan mampu mengatasi
sendiri permasalahan yang dihadapi industri TPT, karenanya semua pihak yang
terkait diharapkan dapat mengambil inisiatif dan perannya di bidang
masing-masing dalam rangka mendorong percepatan pelaksanaan revitalisasi
industri TPT.
Berikut adalah tabel TPT dari tahun
2008-2013
Negara
|
US$
|
||||||
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
Jan-Agu
|
||
2012
|
2013
|
||||||
AMERIKA
SERIKAT
|
3,796,567,426
|
3,479,913,719
|
4,141,370,452
|
4,573,144,225
|
4,098,877,214
|
2,807,092,085
|
2,831,176,491
|
MALAYSIA
|
226,350,750
|
205,734,370
|
232,414,252
|
267,852,645
|
277,767,395
|
199,105,542
|
200,382,579
|
BELGIA
|
233,575,594
|
198,152,786
|
224,555,799
|
261,967,031
|
241,156,561
|
173,702,679
|
155,865,231
|
THAILAND
|
142,994,497
|
119,233,798
|
151,460,718
|
180,426,997
|
195,246,991
|
126,068,948
|
141,114,563
|
ITALIA
|
211,441,273
|
163,852,826
|
224,826,202
|
257,939,910
|
189,616,849
|
125,819,207
|
148,469,349
|
SAUDI
ARABIA
|
170,911,987
|
173,092,291
|
161,360,925
|
199,395,159
|
185,966,356
|
139,081,946
|
90,213,728
|
KANADA
|
143,390,738
|
128,093,509
|
163,803,129
|
202,944,823
|
179,727,677
|
125,045,515
|
129,436,906
|
BELANDA
|
179,904,601
|
156,542,113
|
192,085,642
|
230,523,952
|
176,818,333
|
121,835,480
|
125,845,255
|
AUSTRALIA
|
89,393,156
|
83,594,870
|
104,887,670
|
138,529,023
|
156,850,495
|
102,320,959
|
109,513,169
|
VIETNAM
|
100,741,915
|
88,633,152
|
121,907,093
|
148,987,113
|
146,239,944
|
93,301,983
|
99,238,692
|
MESIR
|
91,005,764
|
85,630,321
|
95,440,261
|
130,188,201
|
142,637,813
|
97,839,008
|
115,861,345
|
JEPANG
|
546,952,445
|
474,068,428
|
625,021,460
|
994,699,673
|
1,069,391,178
|
695,838,916
|
774,437,931
|
SPANYOL
|
131,813,592
|
121,628,045
|
153,038,195
|
210,949,776
|
140,624,892
|
94,342,287
|
91,676,262
|
JERMAN
|
600,005,234
|
530,442,329
|
592,052,871
|
728,128,755
|
622,910,373
|
428,958,078
|
402,033,558
|
TURKI
|
326,199,690
|
309,051,558
|
469,932,769
|
608,039,852
|
564,374,767
|
390,541,592
|
388,543,540
|
KOREA
SELATAN
|
285,888,238
|
325,116,877
|
441,587,523
|
513,595,530
|
554,634,112
|
364,120,837
|
394,089,536
|
REP.RAKYAT
TIONGKOK
|
175,116,118
|
180,617,348
|
300,891,793
|
388,376,669
|
448,159,775
|
266,870,210
|
379,886,517
|
UNI
EMIRAT ARAB
|
364,384,936
|
307,789,152
|
329,127,765
|
390,520,877
|
410,126,455
|
271,732,307
|
267,465,584
|
INGGRIS
|
384,326,831
|
360,383,933
|
375,817,302
|
405,714,540
|
373,173,645
|
265,987,536
|
229,331,962
|
BRASILIA
|
259,612,444
|
269,731,132
|
314,945,292
|
352,964,458
|
352,513,514
|
228,781,054
|
238,000,938
|
Kami memilih TPT (Tekstil dan Produk
Tekstil) sebagai sumber daya alam yang berpengaruh terhadap comparative advantage karena produk
tekstil merupakan salah satu industri yang diutamakan untuk
dikembangkan karena memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional.
Faktor-faktor pendukung sebagai berikut :
·
Merupakan Ekspor nomor satu yang
diunggulkan negara.
·
Sebagai penyumbang devisa negara.
·
Menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup
besar.
·
Merupakan industri yang diandalkan
untuk memenuhi kebutuhan sandang nasional.
·
Ekspor Tekstil lebih besar daripada
impor Tekstil selama satu dasawarsa terakhir, bahkan saat krisis
ekonomi melanda dunia
Sumber:




0 komentar:
Posting Komentar