Tinkerbell Glitter
Kamis, 28 November 2013

Tugas 3 Teori Ekomoni 1 (Pak Prihantoro)

Oleh :
Dyah Ayu Kusuma Wardani (22212330)
Kahlil Fauzan (24212013)
Mega Ayu Puspita (24212507)
Mufingatun (24212750)

Kelas : SMAK06





UNIVERSITAS GUNADARMA
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Komoditi Tekstil dan Produk Tekstil Terhadap Comparative Advantage

Industri Tekstil dan Produk Tekstil

Menurut Kemendagri (2011) sebuah produk tekstil merupakan produk mentah, produk setengah olah atau yang telah diolah, produk semi manufaktur atau manufaktur, produk setengah jadi atau produk jadi yang berasal dari serat tekstil dari campuran atau proses perakitan yang digunakan.
Tekstil teknik dikenal juga dengan nama tekstil industri, merupakan sub-kategori dalam sektor produk tekstil serta sektor produk pakaian. Tekstil teknik mencakup serangkaian produk dari berbagai sub-sektor dan didefinisikan sebagai jenis tekstil bertujuan bukan untuk estika atau dekoratif, melainkan untuk mendukung produk-produk dari industri lainnya. Produk tekstil teknis cukup bervariasi, mulai dari plester medis hingga alat-alat mobil yang terbuat dari serat karbon, termasuk kerangka atap yang dilapisi plastik.
Keragaman sektor tekstil menyebabkan berkembangnya berbagai jenis perusahaan serta terciptanya beragam struktur pasar yang didominasi oleh Usaha Kecil dan Menengah (Small and Medium Enterprises/SMEs). Metode produksi yang digunakan juga berbeda-beda, namun proses manufaktur tekstil pada umumnya membutuhkan investasi modal besar yang harus dikeluarkan di awal.
 Diagram di bawah ini menunjukkan nilai impor dan ekspor Indonesia, masing-masing sektor tekstil dan pakaian, serta neraca perdagangan agregat untuk tekstil dan pakaian dari tahun 2007 hingga 2011 (dalam juta US$): 

Sumber: Data Akses Pasar dan Perdagangan Internasional WTO

Ekspor tekstil dan Pasar Ekspor Utama Indonesia

Seperti yang telah ditunjukkan pada tabel pertama di atas, Indonesia mengekspor beragam jenis produk tekstil dalam lebih dari 15 sub-sektor pada kode HS 6-angka, dengan rata-rata ekspor tahunan sebesar US$ 30-90. Sebagian besar merupakan ekspor pakaian dan garmen, bukan benang atau tekstil yang belum diproses, walaupun Indonesia juga menghasilkan berbagai jenis serat dan benang filamen dalam jumlah yang signifikan. Pemasok dari Indonesia berkontribusi sebesar 2% dari total impor tekstil Uni Eropa, dan merupakan salah satu eksportir tekstil dan pakaian jadi terkemuka di kawasan ASEAN.
Berdasarkan statistik yang dimuat dalam South East Asia Textile Business Review 2009 (Edisi pertama), Indonesia meguasai 1,6% pasar ekspor tekstil serta 1,7% pasar ekspor garmen dunia. Secara global, Indonesia memproduksi 13% serat viscose staple (Viscose staple fiber/VSF), 4% serat polyester staple (polyester staple fibre/PSF), 4% benang polyester filament (polyester filament yarn), 2% poliamida, serta 0,03% kapas. Pasar ekspor tekstil dan garmen terbesar Indonesia terdiri dariAmerika Serikat (mencapai 36% ekspor tekstil dan garmen Indonesia pada tahun 2009), diikuti oleh Uni Eropa (16%) dan Jepang (5%). Industri tersebut mengalami pertumbuhan yang stabil selama beberapa tahun terakhir, dengan laju pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil sebesar 11,59% atau sebesar 3,41% per tahun, dari tahun 2000 hingga 2009.

Rantai Nilai

Pada permulaan rantai nilai, bahan baku mentah diolah dari serat mentah menjadi benang yarn dan benang thread. Hal ini dilakukan dengan cara memintal serat untuk menghasilkan tabung silinder (cylindrical bobbins) berisi serat yang telah dipintal yang kemudian disambungkan menjadi helaian panjang benang thread atau benang yarn. Setiap helai benang kemudian ditenun bersamaan pada mesin tenun (yang kini telah terkomputerisasi) untuk menghasilkan kain. Mesin tenun menjaga ikatan tetap di tempat, yang diikat dengan kuat pada bingkai dan bagian weft-nya, yang tersambung kepada tangkai besi sebanyak satu helai benang per tangkai. Setelah kain selesai ditenun, kemudian digunakan bahan kimia untuk memurnikan warna dasar dan menghilangkan minyak, lilin serta elemen lain yang secara alami terdapat di dalam kebanyakan serat. Setelah tekstil diproses dan produk tahap menengah atau intermediate-state telah selesai, tekstil dapat diolah menjadi pakaian, tekstil rumah serta tekstil industri. Tekstil atau kain kemudian diselesaikan dengan diberikan lapisan coat, pemutih, dipotong atau dicetak, dan seterusnya sebelum diubah menjadi produk akhir.


Menurut siaran pers Biro Umum dnan Humas Kementerian Perindustrian di Jakarta pada 21 Juli 2010 industri tekstil dan produk  tekstil merupakan salah satu industri yang diutamakan untuk dikembangkan karena memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional yaitu sebagai penyumbang devisa negara, menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup besar, dan sebagai industri  yang diandalkan  untuk memenuhi  kebutuhan  sandang nasional. Hal ini dapat ditunjukkan melalui perolehan surplus ekspor terhadap impor selama satu dasawarsa  terakhir, bahkan saat krisis  ekonomi melanda dunia,  ITPT  Nasional masih dapat mempertahankan  surplus perdagangannya dengan nilai tidak kurang dari US$ 5 Milyar, penyerapan tenaga kerja 1,34 juta jiwa, capaian Tenaga Kerja Dalam Negeri hingga 63% dan berkontribusi memenuhi kebutuhan domestik sebesar 46%.
Ditinjau dari performa neraca ekspor-impor antara Indonesia dengan beberapa negara produsen TPT Asia untuk produk serat, benang, kain lembaran dan pakaian jadi pada kurun waktu tahun 2008 dan 2009, menunjukkan bahwa ITPT Nasional masih cukup baik. Namun, performa ekspor-impor TPT Nasional yang cukup baik itu belum dapat menjadi jaminan bahwa ke depan industri TPT masih tetap dapat bersaing, mengingat kinerja ekspor selama lima tahun terakhir cenderung melambat, akibat dari kompleksitas berbagai faktor yang dihadapi industri TPT. Sementara industri TPT Nasional memiliki cukup banyak faktor yang potensial berpengaruh melemahkan daya saing, baik faktor internal maupun faktor eksternal, yang perlu segera diselesaikan dengan program kerja yang konkrit, implementatif, terarah, dan sinergis.
Faktor internal yang dihadapi industri TPT, sebagai berikut :
·         Kondisi mesin yang sudah usang dan perlu diremajakan.
·         Belum tersedianya industri permesinan tekstil di dalam negeri yang mengakibatkan ketergantungan dengan mesin impor.
·         Bahan baku kapas yang masih 99,5% diimpor; bahan penolong seperti zat warna azzo belum tersedia cukup di dalam negeri.
·         Terbatasnya SDM yang terampil dan professional.
·         Belum cukupnya dukungan perbankan dalam pemberian kredit modal kerja
·         Penggunaan energi yang boros.
Faktor eksternalnya yang dihadapi industry TPT, sebagai berikut:
·         Pasokan energi yang tidak terus-menerus.
·         Belum adanya prioritas akses pasar yang memadai bagi produk tesktil dalam negeri di pasar modern.
·         Kurangnya  fasilitasi marketing produk TPT di luar negeri.
·         Belum memadainya fasilitas sarana dan prasarana transportasi, pelabuhan, serta tidak adanya kepastian waktu penyelesaian restitusi pajak, dan lain sebagainya.
Dengan kondisi tersebut, maka cost structure yang terbentuk menjadi banyak dibebani oleh biaya-biaya yang tidak terkait langsung dengan proses produksi.
Bertolak dari  kondisi itulah, maka Kementerian Perindustrian mengambil langkah konkrit sebagai upaya peningkatan penguatan daya saing ITPT  dengan memaksimalisasikan nilai tambah produk ITPT  dalam negeri.
Kementerian  Perindustrian sejak tahun 2007-2009 telah melakukan Program Restrukturisasi  Mesin/Peralatan, yang bertujuan untuk mendorong  industri TPT melakukan peremajaan permesinannya, dan hasilnya cukup menggembirakan. Dengan penyaluran dana program yang hanya sebesar Rp.504,77 miliar, telah terjadi investasi swasta senilai Rp.4,90 triliun, penyerapan  tenaga kerja sebanyak 46.902  orang,  peningkatan  produksi 15-28%, penghematan energi 6-18% dan peningkatan  produktivitas 7-17 %.
Pada tahun 2010,selama periode pendaftaran mengikuti program yaitu 29 Maret-30 Juni 2010 telah terdaftar 202 industri TPT dengan  perkiraan nilai investasi senilai Rp.2,33 triliun dengan bantuan senilai Rp.212,66 miliar atau 147%. Dengan kata lain pada Tahun Anggaran 2010 terjadi defisit anggaran sebesar Rp.68,31 miliar, sehingga 91 industri TPT peserta Program terkategori waiting list. Kementerian Perindustrian memandang program restrukrisasi mesin/peralatan saja belum cukup untuk meningkatkan daya saing.
Selain itu Kementerian  Perindustrian juga telah mengambil inisiatif menyusun Rencana Aksi Revitalisasi ITPT, antara lain:
· Mengupayakan  menarik /mengembangkan investasi industri bahan baku  serat sintetik;
· Mendorong upaya pengembangan  kapas lokal;
· Mengupayakan menarik/mengembangkan investasi industri zat warna tekstil;
· Mengupayakan menraik/mengembangkan investasi industri aksesoris fashion;
· Pengembangan profesionalisme SDM ITPT;
· Pengembangan SDM serta Pusat Design dan Fashion;
· Menarik/mengembangkan investasi industri permesinan tekstil.
Kementerian Perindustrian tentu tidak akan mampu mengatasi sendiri permasalahan yang dihadapi industri TPT, karenanya semua pihak yang terkait diharapkan dapat mengambil inisiatif dan perannya di bidang masing-masing dalam rangka mendorong percepatan pelaksanaan revitalisasi industri TPT.
Berikut adalah tabel TPT dari tahun 2008-2013

Negara
US$
2008
2009
2010
2011
2012
Jan-Agu
2012
2013
AMERIKA SERIKAT
3,796,567,426
3,479,913,719
4,141,370,452
4,573,144,225
4,098,877,214
2,807,092,085
2,831,176,491
MALAYSIA
226,350,750
205,734,370
232,414,252
267,852,645
277,767,395
199,105,542
200,382,579
BELGIA
233,575,594
198,152,786
224,555,799
261,967,031
241,156,561
173,702,679
155,865,231
THAILAND
142,994,497
119,233,798
151,460,718
180,426,997
195,246,991
126,068,948
141,114,563
ITALIA
211,441,273
163,852,826
224,826,202
257,939,910
189,616,849
125,819,207
148,469,349
SAUDI ARABIA
170,911,987
173,092,291
161,360,925
199,395,159
185,966,356
139,081,946
90,213,728
KANADA
143,390,738
128,093,509
163,803,129
202,944,823
179,727,677
125,045,515
129,436,906
BELANDA
179,904,601
156,542,113
192,085,642
230,523,952
176,818,333
121,835,480
125,845,255
AUSTRALIA
89,393,156
83,594,870
104,887,670
138,529,023
156,850,495
102,320,959
109,513,169
VIETNAM
100,741,915
88,633,152
121,907,093
148,987,113
146,239,944
93,301,983
99,238,692
MESIR
91,005,764
85,630,321
95,440,261
130,188,201
142,637,813
97,839,008
115,861,345
JEPANG
546,952,445
474,068,428
625,021,460
994,699,673
1,069,391,178
695,838,916
774,437,931
SPANYOL
131,813,592
121,628,045
153,038,195
210,949,776
140,624,892
94,342,287
91,676,262
JERMAN
600,005,234
530,442,329
592,052,871
728,128,755
622,910,373
428,958,078
402,033,558
TURKI
326,199,690
309,051,558
469,932,769
608,039,852
564,374,767
390,541,592
388,543,540
KOREA SELATAN
285,888,238
325,116,877
441,587,523
513,595,530
554,634,112
364,120,837
394,089,536
REP.RAKYAT TIONGKOK
175,116,118
180,617,348
300,891,793
388,376,669
448,159,775
266,870,210
379,886,517
UNI EMIRAT ARAB
364,384,936
307,789,152
329,127,765
390,520,877
410,126,455
271,732,307
267,465,584
INGGRIS
384,326,831
360,383,933
375,817,302
405,714,540
373,173,645
265,987,536
229,331,962
BRASILIA
259,612,444
269,731,132
314,945,292
352,964,458
352,513,514
228,781,054
238,000,938

Kami memilih TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) sebagai sumber daya alam yang berpengaruh terhadap comparative advantage karena produk  tekstil merupakan salah satu industri yang diutamakan  untuk dikembangkan karena memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Faktor-faktor pendukung sebagai berikut :
·         Merupakan Ekspor nomor satu yang diunggulkan negara.
·         Sebagai penyumbang devisa negara.
·         Menyerap tenaga kerja dalam jumlah cukup besar.
·         Merupakan industri  yang diandalkan  untuk memenuhi  kebutuhan  sandang nasional.
·         Ekspor Tekstil lebih besar daripada impor Tekstil selama satu dasawarsa  terakhir, bahkan saat krisis  ekonomi melanda dunia

Sumber:

0 komentar:

Posting Komentar

 
;