Salah satu faktor yang mempengaruhi Pendapatan
Nasional adalah tenaga kerja. Selama ini kita hanya memperhatikan dari
kuantitasnya saja karena kita menganggap jika jumlah tenaa kerja meningkat maka
jumlah produktifitasnya akan ikut meningkat. Anggapan itu tidak seluruhnya
salah, jika kualitas tenaga kerja menigkat maka tingkat produksi juga akan
mengalami peningkatan.
Berbicara tentang kualitas tenaga kerja, kita
berhubungan dengan apa yang disebut “human capital”. Sebelum merencanakan untuk
meningkatkan kualitas, lebih dalam lagi kita mengetahui apa tujuan dari faktor
produksi tersebut. Tidak lain, tujuan faktor produksi adalah untuk mendapatkan
upah. Berarti, penawaran tingkat kerja
akan tergantung pada tinggi rendahnya tingkat upah. Semakin tinggi tingkat upah
di pasar tenaga kerja semakin tinggi pula jumlah penawaran tenaga kerja.
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja
yang dapat disediakan oleh pemilik tenaga kerja pada setiap kemungkinan upah
dalam jangka waktu tertentu. Dalam teori klasik sumber daya manusia (pekerja)
merupakan individu yang bebas mengambil keputusan untuk bekerja atau tidak.
Bahkan pekerja juga bebas untuk menetapkan jumlah jam kerja yang diinginkannya.
Teori ini didasarkan pada teori tentang konsumen, dimana setiap individu
bertujuan untuk memaksimumkan kepuasan dengan kendala yang di hadapinya.
Menurut G.S Becker (1976), Kepuasan individu bisa
diperoleh melalui konsumsi atau menikmati waktu luang (leissure). Sedang kendala yang dihadapi individu adalah tingkat
pendapatan dan waktu. Bekerja sebagai kontrofersi dari leisure menimbulkan
penderitaan, sehingga orang hanya mau melakukan kalau memperoleh konpensasi
dalam bentuk pendapatan, sehingga solusi dari permasalahan individu ini adalah
jumlah jam kerja yang ingin ditawarkan pada tingkat upah dan harga yang
diinginkan.
Kombinasi
waktu non pasar dan barang-barang pasar terbaik adalah kombinasi yang terletak
pada kurva indefferensi tertinggi yang dapat dicapai dengan kendala tertentu.
sebagaimana gambar 3, kurva penawaran tenaga kerja mempunyai bagian yang
melengkung ke belakang. Pada tingkat upah tertentu penyediaan waktu kerja
individu akan bertambah apabila upah bertembah (dariW ke W1). Setelah mencapai
upah tertentu (W1), pertambahan upah justru mengurangi waktu yang disediakan
oleh individu untuk keperluan bekerja (dari W1 ke WN). Hal ini disebut Backward Bending Supply Curve.
Layard
dan Walters (1978), menyebutkan bahwa keputusan individu untuk menambah atau
mengurangi waktu luang dipengaruhi oleh tingkat upah dan pendapatan non kerja.
Adapun tingkat produktivitas selalu berubah-rubah sesuai dengan fase produksi
dengan pola mula-mula naik mencapai puncak kemudian menurun. Semakin besar
elastisitas tersebut semakin besar peranan input tenaga kerja untuk
menghasilkan output, berarti semakin kecil jumlah tenaga kerja yang diminta.
Sedangkan untuk menggambarkan pola kombinasi faktor produksi yang tidak
sebanding
(Variable proportions) umumnya digunakan kurva isokuan (isoquantities) yaitu
kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi faktor produksi (tenaga kerja dan
kapital) yang menghasilkan volume produksi yang sama. Lereng isokuan
menggamblfncan laju substitusi teknis marginal atau marginal Rate of Technical
Substitution atau dikenal dengan istilah MRS. Hal ini dimaksudkan untuk melihat
hubungan antara faktor tenaga kerja dan kapital yang merupakan lereng dari
kurva isoquant.
Sumber :


0 komentar:
Posting Komentar