Tinkerbell Glitter
Kamis, 28 November 2013

Tugas 4 Teori Ekonomi (Pak Prihantoro)



ANGGOTA KELOMPOK
DYAH AYU KUSUMA WARDANI             (22212330)
KAHLIL FAUZAN                                        (24212013)
MEGA AYU PUSPITA                                  (24212507)
MUFINGATUN                                             (24212750)
KELAS                                                           : SMAK06-03



Prediksi Sektor Industri Rokok 2014-2015 terhadap Ekonomi (Pasar Uang, Sektor Formal, Pasar Tenaga Kerja) berdasarkan Proyeksi 2000-2013

Latar Belakang         
            Menurut Sasu Nanuneni (2012) salah satu sumber penerimaan negara yaitu cukai mempunyai kontribusi yang sangat penting dalam APBN khususnya dalam kelompok Penerimaan Dalam Negeri. Penerimaan cukai dipungut dari tiga jenis barang yaitu; etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol dan hasil tembakau berpengaruh besar terhadap penerimaan negara. Anggaran pendapatan dan Belanja Negara selalu meningkata dari tahun ke tahun. Pada tahun 1990/1991, penerimaan cukai hanya sebesar Rp 1,8 triliun atau memberikan kontribusi sekitar empat persen dari penerimaan dalam negeri, pada tahun anggaran 1999/2000 jumlah tersebut telah meningkat menjadi Rp. 10,4 triliun atau menyumbang sebesar 7,3 persen dari penerimaan dalam negeri.
            Hal ini menjelaskan bahwa penerimaan cukai terhadap penerimaan dalam negeri selama kurun waktu 1 dasawarsa, telah meningkat sekitar 100%. Dari penerimaan cukai tersebut, 95% berasal dari cukai hasil tembakau yang diperoleh dari jeni hasil tembakau berupa rokok sigaret kretek mesin, rokok sigaret tangan dan rokok sigaret putih mesin, yang dihasilkan oleh industri rokok.

Perkembangan Industri Rokok Tahun 1981-2002
            Berdasarkan data Statistik Industri Besar dan Sedang (BPS), pada tahun 1981 industri rokok hanya dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu industri rokok kretek (31420) dan industri rokok putih (31430). Mulai tahun 1990, industri rokok kretek dirinci lebih spesifik lagi menjadi 2 bagian, yaitu Industri Rokok Kretek (31420) yang terdiri dari Sigaret Kretek Tangan dan Sigaret Kretek Mesin, serta industri rokok lainnya yang terdiri dari rokok lembag menyan, rokok klobot dan cerutu. Tahun 2000, industri rokok relative stabil, hal ini terlihat dari jumlah perusahaan yang jumlahnya berkisar 244 sampai dengan 247 perusahaan.
            Produksi rokok mencapai puncaknya pada tahun 1998 sebanyak 269,85 batang dengan nilai sebesar Rp. 22,09 triliun, tahun 1999 mengalami penurunan sebesar Rp 254,17 miliar batang dengan nilai sebesar Rp 30,32 triliun. Walaupun secara produksi sampai tahun 2001 terus mengalami penurunan, tetapi secara nilai pada tahun 2001 masih menunjukkan peningkatan dengan nilai sebesar Rp. 54,79 Triliun.
            Menurut penyusun, industri rokok di Indonesia selalu mengalami penurunan kuantitas setiap tahunnya, di sisi lain penurunan kuantitas itu menjadikan keuntungan meningkat setiap tahunnya karena produsen menaikkan harga terhadap rokok itu sendiri. Hal tersebut menyebabkan permintaan warga negara terhadap uang akan semakin besar, dan pada sektor riil terjadi permintaan terhadap rokok yang meningkat, sehingga hal tersebut berdampak pada gaji para karyawan atau buruh rokok yang akan semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini dapat kami simpulkan berdasarkan data-data BPS (Badan Pusat Statistik) dan data-data dari Perusahaan Rokok itu sendiri.



Berikut adalah Tabel Inflasi yang terjadi akibat IHK (Indeks Harga Konsumen). IHK tersebut dipengaruhi oleh Variabel Rokok pada tahun 2000-2013



Berdasarkan data-data diatas, penyusun bisa memprediksi bahwa pada periode 2014-2015 permintaan terhadap rokok di Indonesia akan selalu mengalami peningkatan walaupun produsen mengurangi kuantitas rokok di pasar, hal ini akan menyebabkan Inflasi yang terjadi akibat IHK yang salah satu variabelnya adalah permintaan terhadap rokok akan mengalami peningkatan juga tetapi tidak berdampak buruk terhadap negara. Peningkatan inflasi tersebut meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak riil karena perusahaan rokok paling banyak didominasi oleh investor asing. Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang tidak menyejahterahkan rakyat karena variabel-variabel pendapatan nasional yang dikuasai oleh investor asing.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;