Angin hujan yang lembab dan
dingin menerpa tubuh kedua gadis yang yang sedang duduk di kantin sekolah.
Rambut mereka melambai-lambai tertiup angin. Salah satu gadis mengeratkan jaket
dengan kedua tangannya. Rasa dingin menyeruak ke dalam tubuh mereka. Walaupun
telah ditemani dengan susu coklat panas, rasa dingin tetap ada. Seharusnya,
mentari sore terlihat di langit tetapi yang ada malah langit yang gelap gulita.
“Kapan mereka kesini neng ?” tanya Kelly sambil menatap
langit gelap
“Sabar napa Kel, baru juga jam tiga sore”
“Ah bete gue. Sekarang anak-anak mana ? pada lelet banget
sih huuuh”
“Badmood banget sih lu Kel. Gue udah sms dan kata mereka
bentar lagi juga ke kantin”
“Lamaaaaaaa…” keluh Kelly sambil menaruh dagunya di meja
Olyv menatap temannya yang sedari tadi mengeluh
terus-menerus. Mereka memang sedang menunggu dua temannya yang sedang ada
urusan dengan guru. Mereka berempat berencana untuk menginap di rumah Olyv hari
ini. Olyv kemudian melihat sekeliling mereka. Gelap. Hanya tinggal mereka
berdua dan kantin yang masih buka. Kelly menyadari mata Olyv yang meniliti
setiap sudut kantin. Kelly mengikuti arah mata Olyv.
“Liatin apa sih lu Lyv ?” tanya Kelly membuat Olyv terkejut
dengn muka yang pucat pasi.
“Enggak kok cuma kok disini gelap banget yaaa”
“Halaaah.. takut ya lu?”
“Hah ? enggak kok”
Dari mimik Olyv, Kelly tau kalau temannya sedang ketakutan.
Pake bohong lagi, ucap Kelly dalam hati.
TRING !
Kelly ada ide. Ia menatap belakang Olyv dan memasang tampang
kaget tapi cool. Hahahaha.
“Kenapa Kel ? kok muka lu kayak kaget gitu deh?”
Kelly pura-pura menambah mimik kaget pas ditanya begitu.
“Oh enggak apa apa kok Lyv, cuma ada putih-putih gitu deh..
mana tinggi banget lagi. Tuh dipojokan kantin, lagi ngeliatin kita gitu”
Mendengar itu, badan Olyv menegang. Peredaran darahnya
seperti berhenti. Muka Olyv yang putih langsat menjadi putih mayat. Dirinya tak
berani bergerak sedikitpun.
“Kell.. serius dong” kata Olyv setengah berbisik
“Ngapain sih pake bisik-bisik segala” seru Kelly. Padahal
dalam hatinya ia tertawa ngakak melihat kelakuan si Olyv. Mata Kelly kembali
mencari-cari sosok khayalannya di belakang Olyv.
“Eh dia mendekat tuh Lyv”
Seketika Olyv memejamkan matanya. Tangan Olyv menggengam
erat rok dirinya. Kepalanya menunduk. Takut.
Tiba-tiba…
Olyv merasakan pundaknya disentuh seseorang.
“HUAAAAAAAAAAAAAAAAA ‼! MAMA TOLONG ! Ampun deh ampuuun ‼
saya orang baik-baik deh bener deh ! suwer banget.. salah saya apaaa ‼! Jangan
ganggu saya pleaseee ‼ saya kan enggak pernah ganggu kamu cong… iya kan ? iya
aja deh cong biar cepet.. haduuuh mama‼” seru Olyv ketakutan sambil matanya
masih di pejamkan
“Heh ! kenapa lu? Kesambet apaan sih ? buka mata lu Lyv, gue
Cika sama Dera” seru Cika sambil duduk disamping Olyv
Dengan perlahan Olyv membuka kedua matanya yang sedari tadi
ia pejamkan. Oh memang benar, ternyata itu Cika. Dan ada Dera di depan dirinya.
Dan KELLY ! dia lagi tertawa terbahak-bahak.
“Lu ngerjain gue ya !” seru Olyv sambil melempar sapu tangan
miliknya ke arah Kelly.
“Parah lu Kell, anak orang nih.. kalau jantungan terus
meninggal kan lu yang di amuk massa sama keluarganya” Dera ikut berbicara
“Lagiaaan, si Olyv pake percaya yang kaya gitu sih. Eh, mana
ada sih setan-setan, tuyul lah, pocong lah, kuntilanak lah.. itu semua takhayul
!”
“Eh ngomong sembarangan lu” ucap Cika
“Dibilangin, gue nh seumur-umur yah belum pernah liat yang
kayak gitu. Orang-orang aja yang Cuma berkhayal”
“Awas aja lu Kell, karma berlaku “ ancam Olyv
“Dih marah. Gue kan tadi iseng bebeb Olyv hehehe.. senyum
dong Lyv” rayu Kelly pada Olyv
“Diemin aja Lyv. Jail sih lu Kell”
“Yeee.. gue tuh lagi ngerayu Olyv yaaaa bukan ngerayu lu,
Cika bawel”
“Lu yang bawel”
“Dua-duanya bawel” Dera malah ikut nimbrung
“Eh lu, Dera sama Cika yang bawel !”
“Hush ! diem, kalau berantem kita enggak jadi nginep” ancam
Olyv dengan tatapan tajam. Setajam silet, hehe.
“Iyaaa, ayo kita kerumang neng Olyv” seru Kelly
Mereka berjalan menuju parkiran
sekolah. Letak kantin dan parkiran sekolah itu dari ujung ke ujung. Jauh. Harus
melewati Lab IPA, Perpustakaan dan koridor kelas XII. Suasana di tempat yang
mereka lalui cenderung gelap. Karena hanya diberi penerang satu lampu kebun di
depan kelas XII yang memang banyak ditumbuhi tanaman, terlebih banyak pohon
yang tumbuh dengan subur. Biasa buat tempat makhluk halus, katanya.
Olyv dan Cika berjalan paling depan, sementara Kelly dan
Dera berada di belakang mereka. Kini mereka berjalan di samping Lab IPA.
Ruangan Lab IPA sangat terlihat jelas, karen tak ada korden yang menutupi
jendela tersebut. Banyak patung-patung manusia dan tengkorak buatan yang
berjejer dengan rapi.
“Apaan sih !?” bentak Kelly keras
Olyv, Cika dan Dera menoleh ke arah Kelly. Mereka berempat
berhenti di samping Lab IPA.
“Kenapa sih Kell ?” tanya Cika
“Ini, dari tadi ada yang iseng lemparin gue batu-batu kecil
gitu. Ngeselin banget sih”
“Jangan bercanda dong Kell”
“Yaelaaah ngapain juga gue bohong sih, kuang kerjaan banget”
Tiba-tiba, mata Kelly tertuju pada jendela Lab IPA yang
bebas dari korden. Mukanya seketika menjadi pucat pasi.
“Heh ! lu kenapa Kell ?” tanya Dera sambil menyikut Kelly
“Itu.. itu… itu…..” tunjuk Kelly dengan tangan yang bergetar
dan suara yang gagap
“Ada apa ???”
“Iya ada apaan ? ngomong yang jelas dong Kell, jangan buat
kita penasaran”
“Itu tengkoraknya melambai-lambai, ter..rus ada… adaaa”
Badan ketiga temannya menegang. Tak kuasa untuk menoleh ke
arah jendela Lab IPA. Susah dan takut.
“Kelly gue takut !” bisik Olyv
“Jangan iseng Kel “ lanjut Dera
“Ada apa lagi Kell ?” tamabh Cika dengan antusias yang takut
“Ada yang mende..de..” suara Kelly menelan ludah “dekat”
tambahnya
DEG !
Seketika wajah ketiga temannya memucat. Jantung mereka terus
berdebar seperti mau copot. Sumpah ! ini nakutin, ucap Dera dalam hati. Mereka
mau lari tapi kayak diubah jadi batu. Mau teriak, mulut kaya di kunci.
Haduuuuh.. susah untuk untuk keluar dari lingkup ini.
“Ta…tapi…” kata Kelly dengan terbata-bata
Mau tau lanjutannyaaa ? tunggu bulan depan yaaa ^^

0 komentar:
Posting Komentar